"Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku."
Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
Dan Raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:35-40)
Puji Tuhan jemaat GPDI North Philly-pun sedang belajar melakukan perintah ini. Kita semua patut bersyukur bahwa Tuhan memberi kita kesempatan dan 'greget' untuk bisa membagi kasih dan memberi pada mereka yang terlunta.
Uang yang kita kumpulkan bersama dalam 'persembahan kasih' telah dikirim ke Indonesia, khususnya kota Malang, Jawa Timur dan memberkati 30 keluarga miskin yang tinggal di pemukiman kumuh dan kolong-kolong jembatan. Bantuan dibagikan dalam bentuk paket bahan2 sembako. Masing2 keluarga menerima 1 karung beras, 1 dos mie instant, minyak goreng curah dan gula.
Terima kasih banyak buat rekan2 di Malang (Niel, Tetha, dan Ibu Pdt. Sarah AR Umboh) yang berjerih lelah melaksanakan 'kerinduan' kami ini. Terima kasih juga buat SEMUA jemaat GPDI North Philadelphia yang dengan bahagia terlibat dalam proyek kasih ini. Berikut laporan pelaksanaannya dalam bentuk slide show foto2.
Sampai bertemu di program kasih berikutnya, di tempat dan tujuan yang berbeda!
Seorang ayah yang memiliki putra berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.
Selang beberapa waktu kemudian, dikota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan untuk dirinya dan anaknya.
Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada disampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak inipun tidak betah duduk diam terlalu lama dan tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.
Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada disampingya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu yang sederhana, Twinkle-twinkle Little Star. Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil.
Sang pianis pun terkejut dan bergegas naik keatas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”. Sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk disamping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersbut.
Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya, ”Waaah….dahsyat juga nich….., baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk disebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.
Apa implikasinya dalam hidup kita? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada disamping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah disamping kita, semua yang kita lakukan sia-sia. Tapi bila Allah ada disamping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang disekitar kita.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagiMu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Kor 12 : 9)
“Mau kenang2an apa dariku?” tawaranmu tengah malam itu. Aku tertawa. Cuma tertawa, karna tak siap merinci ribuan yang telah aku punya darimu.
Setelah diberi cukup bilangan waktu, otakku mulai meregister satu per satu. Mari kurinci yang ribuan itu. Yang mungkin kau tebar tanpa sadar telah menjadi bagian dari siapa aku.
Entah sudah berapa puluh waktu, kau taruh ini di hariku ‘perjalananku haruslah naik dan tak pernah turun!’. Original dan baru! Cuma milikmu, ditaruh khusus padamu… dan kau ulur bagiku! (pasti kau sangkal bahwa kau yg menaruhnya, pasti kau bilang kau cuma buruh tani yg menanam bibit yg sudah ada. Apapun sebutannya, aku dapatkan darimu!)
Ingat ketika aku jengah,? (fragmen kecil dalam perjalanan kita ke Virginia) membiarkan orang bermain2 dgn egoku dan mencampak isi otak di tanah? Aku marah karena tak lagi bisa marah! Aku kehilangan expertiseku dlm berkonfrontasi! merasa munafik dan tak lagi bertaring… aku tak menyukaiku karna merasa aneh dan bukan aku! Lalu kau masuk, tenang dan lembut… menamai keresahanku itu ‘belas kasih yang mulai berkecambah’ yang merubahku bukan lagi dulu tapi baru! Kau bilang kau melihat jalanku sedang naik setapak. begitu harusnya kita, memandang orang dari kacamata kasih yg sebenarnya. Tidak lagi menghakimi tetapi iba dan mengasihani. Tidak sibuk menyusun strategi perlawanan, tetapi mencari cara untuk memberkati! Aku suka ini karena menjelaskan fenomena asing yang tak kukenali.
Satu ketika kau sangat percaya ‘kau, aku dan mereka…kita ditanam berdekatan supaya kuat’ . Katamu seperti serumpun tanaman perdu, berbagi matahari, oksigen, air dan tanah gembur tumbuh kuat, sehat dan subur… memungkinkan proses berkembang dan menghasilkan buah.
Dan kalau buah kita mulai ranum semerbak mengundang dengan aromanya yang harum kau bilang biarkan saja… relakan! tangan2 kasar memetik, meremas atau bahkan merampas. Pasti sakit, waktu kita terpupus dan menetes getah Tersenyumlah, katamu. Karna ternyata kita sedang berhasil Buah kita yang manis, segar dan banyak berair Sedang memuaskan dahaga dan mengenyangkan musafir Dan kita, katamu lagi…tak akan busuk tergantung di pohon. ‘Sebab buah kita haruslah bisa dinikmati orang… bukan kita sendiri!’
Lalu kau juga jeli melihat‘kita diadopsi menjadi keluarga’ diangkat dari yang sia2, ke tempat tinggi berarti murni dari yang papa, menjadi pewaris pemilik segala karna sekarang kita sudah sah menjadi anggota keluarga bukan cuma yang disini antara kau, aku, dan mereka… tetapi juga Dia! kau bilang “betapa berharga kita di mataNya”
Padaku kau perkenalkan ‘teori anak gadis Yefta’ Menurutmu, harusnya seperti itu sikap hati kita Ketika seharusnya sangat istimewa dan satu-satunya, Tapi yang terjadi malah… dalam kemurnian perawan suci yang belum sempat kenal lelaki pasrah dijadikan tumbal korban bakaran bukan karna tak berdaya dan tak punya pilihan tapi dengan sadar menawarkan diri dan mengambil keputusan ikut terlibat menjadi bagian penggenapan nazar yang terlanjur terujar …harga sebuah kemenangan gilang gemilang! (yang padahal sama sekali bukan miliknya.) Ekstrim… pikiranmu yang ini! Belum bisa kujanjikan kalau aku bisa mengerti… …nanti satu kali, ketika pada kesempurnaan aku telah dekat sekali… semoga bisa!
Aku suka sekali yang ini…‘jangan pernah kehilangan mimpi!’ Hitung dan ingat semua pengalaman bersama. Bukankah yang lebih indah dari pemberian adalah si pemberi? Dan yang lebih aman dari penyertaan adalah yang menyertai? Yang lebih menggairahkan dari perjalanan… adalah yang berjalan bersama kita! Katamu teruslah bermimpi… berjalan bersama dan melakukan hal2 indah yang banyak sekali! Sebab kau, aku dan Dia… kita adalah rekan sekerja Untuk mewujudkan mimpi2 indah itu… dalam dunia nyata!
Ada satu lagi, pemberianmu yang kucintai…‘membangun istana bagi orang lain!’ Ini aku, sungguh2 warnaku! Kurasa paling pas dan cocok untukku Karna memang ini pakaianku, cara berdandan bersolek gayaku! Aku sukaaa sekali… kau memberi merek mahal pada bajuku hari-hari!
Lalu ada lagi satu… Yang kau tulis dan kujawab merdu Sebaris kata sederhana, bergulir menjadi rangkaian pantun berbalas sambut! ‘batasan itu ada… untuk membuat kita tetap berharga! … dan terjaga BERMAKNA! (agar tak jadi serupa sewarna. barang kodian, semua sama. murah meriah tak ada beda! sebab lalu apa indahnya? tak ada jua istimewanya! selain tergeser, terdorong, keluar... terafkir saja!!! Iiihh... tak maulah kita!) Maka itu kunikmati saja... semua batasan yg dipasang dan sudah selalu ada agar aku... tetap berharga! ... dan terjaga indah istimewa BERMAKNA!
Belum lama yang lalu kau berikan aku ‘orang2 luar biasa yang khusus ditaruh di sekitarnya akan dipakai untuk merubahnya, tinggal percaya saja!’ Nah, ini dia yang belum sepenuhnya kumengerti… (karna pada kasusku, tak kulihat ada mereka disekitarnya!) Cuma ada aku, jadi kenapa bukan aku saja? Kalau mauku… mustinya aku yang dipakaiNya. Karna cintaku idealnya kumaknai dgn berbuat sesuatu… bukan cuma percaya dan menunggu! Supaya hasilnya kulihat dia nikmati Supaya aku merasa berguna dan berfungsi. … belum sekarang, tapi suatu kali nanti. Semoga otak bebalku bisa mengerti!
Tempo hari, kau melucu…‘marah itu memberi kebaikan minimal sesuatu’ It’s true! It’s true! dengan girang sambutku. Pada marahku, adalah frustrasi terhadap penolakan (atau ketidak pedulian, atau ketidak mengertian) orang2 yg kucintai atas pemberianku bagi mereka, segala yang baik dan menguntungkan. Simplicity menggelitik ini, di kepalaku ia sekarang menghuni, aku tahu secara sporadic nanti akan memunculkan senyum ke permukaan dari hati. Inipun milikmu asli! Lahir dari pengamatanmu, sehari ke sehari!
Masih ada sekian ribu lebih sedikit lagi… Rema, teori, ideologi, buah pikiran, permenungan, penyadaran… yang kau rakit. (semacam pencerahan, atau entah apalah kau mau menamai) Intinya… semua bagiku menjadi hikmat! Tetesan marifat yang menunggui dan mengisi jasad!
Maka jawabku, Untuk tawaran tengah malam itu, Tak usah repot… padaku tak perlu kau beri Kenang2an benda kasat mata yang artinya jadi pucat pasi (jika ditaruh sisi bersisi) Dengan yang sekian ribu lebih sedikit darimu yang telah lama dalamku terpatri. Yang bukan kasat mata, tapi jauh lebih berharga. tak akan rusak, tak mungkin tercuri, tak hilang, tak pergi. tinggal di benak, terpeluk erat di sanubari mengikuti setiap langkahku seperti bayang2. di pagi hari menempel pikiranku seperti embun di kelopak bakung dan putik bunga rumput. di rembang tengah hari lekat erat pada langkah kakiku seperti bayang2 pada obyeknya. di ambang senja terlukis sempurna seperti semburat emas jingga di langit yg beranjak pergi merangkum pekat malam… …menjelang pagi!
Itu semua, Arti kenang2mu bagiku!
April 23, 2009 Buat Angky dengan segenap kasih; ini salam perpisahanku untuk melepas pergimu!) Kikz.
Aku sedih membaca cerita tentang kepahitan hidup yang saat ini sedang dihadapi Suri, adikmu. Sampaikan salamku padanya, my heavy heart goes to her dan anak semata mayangnya.
Soal pertanyaan retorikmu tentang mengapa Tuhan memberi percobaan yang sangat berat dan tak kunjung habis untuk Suri yang sangat baik. Mengapa Tuhan berlaku tak adil dan menghukum orang yang baik (kenapa bukan suaminya yang jahat saja yang dihukum?)
Here is how I see it...
Aku menanyakan (bertubi-tubi!) pertanyaan-pertanyaan serupa ketika hidupku kacau seputar awal pernikahan kami dan proses kelahiran Tiara, anak kami. Kau tahu khan betapa semua rasanya hancur berantakan! Hidupku waktu itu rasanya rusak, buruk rupa dan tak terselamatkan! Aku merasa Tuhan begitu jahat dan sadis... menghukumku keterlaluan berat untuk kesalahan masa laluku hanya untuk menunjukkan bahwa aku salah dan Dia benar! (ingat khan kesalahan masa lalu yang kumaksud?... murtad, pilih pacaran daripada ke gereja, hanyut di pergaulan dan cara hidup dunia termasuk sex di luar nikah dan menantang Tuhan dengan memilih pasangan yang jelas-jelas gak seiman!)
Terus menerus aku bilang padaNya... "Okay, okay aku mengerti sekarang, aku salah, Engkau benar, I am sorry!" Kemudian aku menuntut untuk Dia mengakhiri penderitaanku secara instant. Tapi Dia tak mendengarku!Masalah tetap datang, makin berat dan tambah buruk. Aku gak bisa mengerti waktu itu... sudah tobat kok tetep dihukum? Bahkan aku marah... (aku gak benar-benar tahu apakah aku lebih marah padaNya karna menghukumku terlalu berat, atau marah pada diri sendiri karna aku sendiri yang memulai dan menyebabkan semua kekacauan itu terjadi di hidupku sehingga perlu dihukum!). Yang pasti aku marah aja!
Tapi sekarang aku mengerti mengapa Dia mengijinkan semua kekacauan itu terjadi dan 'menggoncang' hidupku untuk sekian waktu. Bahkan aku mengerti sekarang, bahwa percobaan dan segala yang buruk yg terjadi di hidup kita itu bukan Tuhan yang merencanakan dan membuatnya! Dia hanya mengijinkannya terjadi... tapi Dia tak pernah jauh. Dia berada dekat kita dan siap siaga untuk menangkap kalau-kalau kita jatuh. Dia siap grak untuk mengambil alih beban kalau-kalau penderitaan itu menjadi terlalu berat sehingga kita sama sekali tak sanggup lagi menanggungnya! Dia hanya mengijinkan itu terjadi untuk satu tujuan dan alasan yang BAIK untuk kebaikan kita juga! Cuma kita belum bisa melihat dan mengertinya saja saat cobaan itu sedang terjadi!). Some day... bila semua sudah berlalu, angin ribut lewat, dan cuaca tenang... baru kita akan melihat dan mengerti His reason why.
Sekarang aku mulai bisa melihat dan memahami segala sesuatu dari perspektifNya, dari sudut pandangNya...
Dia begitu mencintaiku, Dia ingin membuatku lebih sempurna. Dia merasa perlu 'memastikan' bahwa aku tidak akan pernah mengambil tikungan jalan yang salah lagi. Dia merasa perlu 'bersikap tegas' padaku supaya aku tidak membuat pilihan dan keputusan yang bodoh dan menyia-nyaiakan hidupku lagi. Dia harus yakin bahwa aku akan bersamaNya dalam hidup yang lebih berarti dalam kekekalan nanti. Karena aku sangat berharga bagiNya maka Dia tak mau kalah memperebutkanku dari tarikan tangan dunia! (Tarikan dalam perebutan ini pasti rasanya sakit!...dan sama sekali tak nyaman!)
Dia tidak sedang menghukumku, Dia hanya belum selesai mengerjakanku, menyelesaikan 'sentuhan terakhirnya' untuk memperindahku dari dalam! Dia cuma sedang mengajariku beberapa materi pelajaran tambahan. Menjadikanku lebih kuat agar aku bisa menghandle yang lebih berat. Menjadikanku lebih tenang dan bijaksana agar aku bisa melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga ke'aku'anku makin berkurang. Menjadikanku lebih sabar agar aku makin tahan berjalan berlama-lama menempuh jalan yang makin panjang bersamaNya. Membuatku makin kenal Dia sehingga aku lebih nyaman mempercayakan dan menaruh hidupku hanya di tanganNya!. Membuatku memahami segala jalanNya... supaya di ujung akhir badai itu aku mampu melihat dan mengakui kebesaranNya bahwa Dia sanggup membalikkan hidupku yang rusak, berantakan dan sia-sia menjadi sesuatu yang indah dan 'bermanfaat, bertujuan' bagiNya!
Coba bayangkan... Kalau kelahiran Tiara normal-normal saja... semua gampang dan mudah. Kalau dia sehat2 saja seperti bayi lainnya yg gak usah harus terancam kematian tiap hari dalam 4 tahun pertama hidupnya. (Kamu ingat khan ceritanya kalau Tiara dulu menderita Hypoglycemia kronik selama 4 tahun pertama hidupnya? Kami harus menusuki jari jemari kecilnya untuk test darah tiap jam, kemudian 3 jam sekali kemudian dua kali sehari!) Kalau pernikahanku gak terancam bubar. Kalau kami gak terjepit terhimpit... bahkan nyaris tercekik tagihan-tagihan biaya rumah sakit yang ratusan ribu dollar! Kalau semua mulus dan bahagia...
Where would I be now???
Pasti hilang, gak kenal Tuhan. Pasti sombong gak pernah punya waktu melirik ke bawah. Pasti angkuh terlena segala yang nyaman dan mudah sehingga gak merasa perlu mencari pertolonganNya. Yang jelas... kalau segala sesuatu tidak terjadi seperti yang sudah terjadi... pasti hatiku, jiwaku tidak berada pada posisi seperti saat ini! Dan sekarang aku sudah berdamai dengan Tuhan, karena ternyata damai itu jauh lebih enak dan ringan dari pada kepahitan yang melelahkan jiwa. Aku dan Dia dalam pola hubungan yang sangat sehat saat ini! Otakku tak lagi penuh curiga dan mempertanyakan keputusanNya. Aku mengerti sekarang bahwa hidupku mempunyai suatu tujuan Ilahi yang jauh lebih besar dari diriku sendiri, jauh lebih berarti dari sekedar hidup yang menurut definisi duniawi! Dengan pemikiran dan kesadaran itu... hidupku menjadi lebih berguna bagi orang lain... dan impact-nya... terasa jauh lebih indah dan ringan di pundakku!
Untukku, dengan segala atribut keangkuhanku, pelajarannya seperti itu. Untuk Suri, adikmu mungkin materi dan tujuan pelajarannya berbeda. Untukmu (kalau Tuhan ijinkan kau mendengar dan berada ditengah kekacauan ini dan merasa pedih melihat penderitaan Suri dan mulai bertanya-tanya tentang keadilan Tuhan... berarti Dia juga sedang 'mengajarmu' something!).
Intinya adalah... Di balik segala sesuatu yang terjadi di hidup kita... pasti ada suatu alasan dan tujuan yang jauh lebih besar dan baik!
Aku sungguh percaya bahwa... segala sesuatu, pada akhirnya, akan jatuh pada tempatnya masing-masing, tempat yang benar dan semestinya... sehingga kita bisa melihat alasan dan keindahannya!
Jadi Nilam, sahabatku... Sementara ini, sambil menunggu dengan sabar segala sesuatu jatuh pada tempat semestinya itu... satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menjaga percaya, bertahan kuat dan penuh dukungan untuk Suri dan anaknya, dan selalu membawa mereka kepada Tuhan dan menaruh dengan yakin yang lain-lainnya di tangan Tuhan untuk Dia yang urus! ... kemudian kita akan kagum pada akhirnya betapa Tuhan itu besar, benar dan ADIL!
Sabar ya, Nilam... Tuhan mencintai Suri, lebih dari yang mampu kau cerna dan mengerti saat ini! I love you, and will always keep you and Suri in my prayers. You are indeed a very special person!
Seorang petani mempunyai seekor kuda jantan yang sangat disayanginya. Setiap hari, dengan telaten ia merawat kuda itu. Suatu kali kuda itu kabur. Para tetangga datang menyampaikan rasa simpati atas kehilangan yang dialami si petani. Sebulan kemudian kuda itu balik lagi disertai serombongan kuda liar dari gunung. Rupanya kuda itu lari ke hutan. Dan, ketika kembali ia diikuti oleh teman-temannya. Para tetangga datang memberi ucapan selamat karena kini ia memiliki banyak kuda.
Suatu hari anak laki-laki si petani berusaha mengendarai salah seekor kuda liar itu. Entah bagaimana ia terjatuh. Kakinya terinjak oleh si kuda liar hingga patah. Akibatnya ia menjadi lumpuh. Para tetangga datang lagi menyatakan rasa simpati. Satu tahun berselang terjadilah perang. Semua pemuda harus berangkat ke medan perang. Hanya anak laki-laki si petani yang dibebaskan untuk tidak ikut berperang karena ia lumpuh. Dan ia satu-satunya pemuda yang selamat dari desa itu.
Di balik musibah kerap tersimpan berkat. Sebaliknya, di balik berkat tidak jarang tersembunyi kesusahan. Maka penting sekali untuk kita selalu mawas diri. Jangan kecil hati ketika tertimpa musibah, sebab dari situ bisa saja kita menuai kebahagiaan. Tetapi juga tidak lupa diri saat bergelimang berkat, sebab bisa saja kemudian kita mengalami kesusahan. Apa yang tampaknya seperti "ujung jalan" kerap hanya sebuah "belokan", masih ada kelanjutannya. Seperti kata Pengkhotbah, untuk segala sesuatu di dunia ini ada waktunya; waktu suka waktu duka, waktu manis waktu pahit. Kita tidak bisa menyelami sepenuhnya pekerjaan Tuhan
APABILA DUKA MENIMPA INGAT SAAT SUKA SUPAYA TIDAK KECIL HATI.
APAILA SUKA MENGHAMPIRI INGAT SAAT DUKA SUPAYA TIDAK LUPA DIRI
Ps. Terima kasih banyak atas kirimannya Essy, Tuhan memberkati! Saling mendoakan di manapun kita berada ya...!
Keledai biasanya dianggap sebagai binatang yang paling bodoh. Berikut sebuah cerita ringan yang menyajikan pembuktian terbalik... bahwa yang terpenting dalam hidup bukanlah "intelegencia-kecerdasan" tetapi "attitude - sikap hati". Selamat mebaca... Semoga terberkati...!
Suatu hari keledai seorang petani jatuh ke dalam sumur. Binatang itu menangis pilu berjam-jam, sementara si petani mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan. Akhirnya ia memutuskan bahwa binatang itu sudah tua, dan sumurnya pun perlu ditutup, sehingga tidak perlu untuk mengangkat keledai itu keluar.
Ia mengerahkan seluruh tetangganya untuk membantunya menutup sumur tersebut. Mereka semua mengambil sekop dan mulai menimbun sumur dengan tanah. Mula-mula ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis sejadi-jadinya. Kemudian, semua takjub ketika ia berhenti menangis.
Setelah memasukkan beberapa sekop tanah kemudian, si petani akhirnya melihat ke bawah sumur. Ia terkejut akan apa yang dilihatnya. Terhadap setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya, si keledai melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia mengibaskan badannya dan mengangkat badannya ke atas dan menjadikan tanah yang terkibas dari tubuhnya sebagai tumpuan kakinya.
Ketika para tetangga petani terus menyekop tanah ke atas tubuh binatang itu, ia mengibaskan badannya dan selalu mengangkat badannya ke atas. Dengan segera, semua orang takjub ketika keledai itu tiba di permukaan sumur, dan dengan gembira melangkah keluar!
Kehidupan akan selalu dipenuhi oleh berbagai macam persoalan. Seperti ceritera donkey diatas Trik untuk keluar dari sumur adalah dengan mengibaskan tanah itu dan mengangkat badannya ke atas. Setiap kesulitan yang kita hadapi adalah batu pijakan. Kita dapat keluar dari sumur yang paling dalam dengan cara tidak berhenti & tak pernah menyerah! Kibaskan tanah, jadikan masalah sebagai pijakan kaki dan naik satu langkah ke atas...!
"Selamat menjalani tahun yang baru ini dengan semangat dan sikap hati yang dibaharui terhadap hidup. Tuhan memberkati!"
Seekor anjing ini berjalan dengan hanya menggunakan 2 kaki saja, namanya adalah Faith (Keyakinan). Faith lahir pada tahun 2002, sehari sebelum hari Natal . Pada waktu baru dilahirkan, Faith memiliki 3 kaki, yaitu 2 kaki belakang, dan 1 kaki depan. Satu kaki depannya akhirnya diamputasi karena bentuknya kecil dan tidak berkembang. Sejak dilahirkan, Faith tidak dapat berjalan selayaknya anjing yang normal, dia hanya bisa terbaring dengan lemah diatas lantai, dan menggerakkan tubuhnya dengan cara mengayuh dengan kedua kaki belakangnya. Bahkan induknya sendiripun ingin membunuh anaknya dikarenakan merasa anaknya tidak dapat berkembang seperti anjing yang normal.
Majikannya berpikir kalau Faith tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan merencanakan untuk membiarkannya mati. Untungnya, ada sebuah keluarga Stringfellow (yang juga akhirnya menjadi majikan baru Faith sampai sekarang ini) menemukan Faith dan rela untuk merawatnya. Mereka bertekad untuk melatih Faith menjadi seekor anjing yang dapat berjalan. Keluarga ini memberinya nama Faith (Keyakinan). Mereka yakin akan ada suatu hari dimana Faith dapat berjalan!
Pertama-tama mereka meletakkan Faith diatas sebuah skateboard agar Faith dapat merasakan badannya bergerak. Kemudian mereka menggunakan selai kacang yang diletakkan di sebuah sendok untuk memancingnya agar mau melompat dan merebut selai kacang tersebut. Di keluarga itu juga terdapat seekor anjing lain yang memaksa Faith untuk mau bergerak. Keajaiban pun terjadi, Faith perlahan-lahan akhirnya dapat menggunakan kedua kaki belakangnya dengan gerakan melompat untuk bergerak maju ke depan. Dengan latihan yang terus menerus, Faith akhirnya dapat berjalan dengan kedua kaki selayaknya seorang manusia, dan proses latihan ini hanya membutuhkan waktu tidak sampai 6 bulan.
Faith sangat suka sekali berlari kemana saja, kemana saja dia pergi selalu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya, Faith sudah mulai dikenal oleh orang-orang di berbagai belahan dunia. Pernah juga diliput oleh berbagai acara di televisi dan juga surat kabar, dan juga telah terbit sebuah buku berjudul "With a little Faith" yang menceritakan kisahnya. Bahkan sempat direncanakan untuk tampil sebagai bintang tamu di salah satu episode film Harry Potter.
Sekarang Jude Stringfellow (majikan Faith) tidak perlu lagi melatih Faith, karena telah merencanakan untuk membawa Faith pergi ke seluruh dunia untuk menyebarkan pesan "Tidak memiliki tubuh yang sempurna, juga dapat memiliki jiwa yang sempurna".
Kadang kita bertanya dlm hati & menyalahkan Tuhan, "apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua?" atau "kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?"
....... Here is a wonderful explanation ......
Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putusdenganpacarnya, dan sahabatterbaiknyapindahkeluar kota .
Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, "dengan senang hati" dia berkata: "Tentu saja, I love your cake."
"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan. "Yaiks," ujar anaknya. "Bagaimana dgn telur mentah?" "You're kidding me, Mom." "Mau coba tepung terigu atau baking soda?" "Mom, semua itu menjijikkan. "
Lalu Ibunya menjawab,
"Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu persatu. Tapijikadicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."
Tuhan bekerja dengan cara yang sama.
Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu persatusesuaidengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurnatepat pada waktuNya.
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.
Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan
Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya.
Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?" tanya sang professor. "Melakukan apa?" tanya Ralph. "Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?" desak sang professor. "Oh, kata Ralph, selama perang! Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya. Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah, katanya.
Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan bersyukurlah!
"Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.."
"Faith, hope and love, but the greatest is Love... "
'Cinta' dalam berbagai bahasa dunia... Love, Libe, Amor, Zet Aime, Trisno, Hak, Aie, Cinto, ... and so on!
Terjemahan kata 'love' menurut definisi The Random House College Dictionary adalah "A feeling of warm personal attachment or deep affection as for a parent, child, friend or person of opposite sex" (Perasaan hangat dari ikatan batin atau rasa peduli yang mendalam dari satu manusia kepada manusia lain, seperti kepada orang tua, anak, sahabat atau lawan jenis.)
Kata 'cinta' atau 'kasih' dalam Alkitab didefinisikan dengan batasan-batasan adjective (kata sifat) yang luar biasa luas dan dalam dan beragam...
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..." (1 Korintus 13 : 4-8)
Dari sudut pandang Linguistics (ilmu bahasa) mungkin definisi-definisi di atas sudah lebih dari cukup untuk menterjemahkan bahasa cinta. Kita cukup mengerti apa arti kata 'cinta'.
But in real life... Bagaimana menterjemahkan bahasa cinta itu ke dalam sikap hidup, tindakan konkrit, peristiwa... ke dalam 'bahasa wujud'!
Berikut adalah input menarik yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, cukup kerharga untuk dijadikan bahan permenungan tentang 'menterjemahkan bahasa cinta' dari Linguistics ke Realistics.
Selamat menikmati, semoga diberkati!
Love is... Our Reason of Being! (Cinta adalah... Alasan inti hidup kita!)
"Menurut saya, cinta adalah tujuan hidup yang seutuhnya. Cinta adalah Tuhan sedang mengekspresikan warna diriNya dalam dan melalui kita. Kalau cinta mulai diwarnai ikatan dan kecemburuan, dan hal-hal negatif lainnya... menurut saya itu berarti kita mulai 'menyusupkan' ekspresi warna diri kita sendiri ke dalam campuran warna 'Cinta' yang sebenarnya dan tidak membiarkan Tuhan, yaitu 'Cinta' itu sendiri untuk berekspresi bebas dan total tanpa halangan di dalam dan melalui kita.
Menurut saya, dengan pertumbuhan iman kita dalam perjalanan rohani, kita akan belajar, kita akan semakin mengenal celahnya, kita akan semaki tahu cara membiarkan 'Cinta itu, yaitu Tuhan' mengalir di dalam kita dan berekspresi bebas melalui kita tanpa memasang batasan-batasan kemanusiaankita sendiri. " (Nnn123 - Beliefnet)
Love is... Openess! (Cinta adalah... Keterbukaan!)
"Bagi saya cinta adalah keterbukaan. Hidup kita dibuka dan diberikan bagi orang lain disekitar kita, sepanjang perjalanan hidup kita!. Untuk dapat diterima, cinta harus diberikan. Dalam berbagai bentuknya yang berbeda-beda, cinta sebenarnya sangat sederhana... yaitu bagaimana kita menunjukkan kepada dunia siapa kita yang sebenarnya. Kita sudah menerima cinta Tuhan, sebagai balasannya... kita harus memberikanNya kembali kepada dunia. Dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik kalau semua penghuninya bersedia memberi cinta, bukan hanya meminta dan menerima. Sebenarnya kita semua sudah tahu cara mencintai... tapi sedihnya, justru pengetahuan itu sering kita salah gunakan!" (royalsd -Beliefnet).
Love is... Simple Gestures That Speak Volume. (Cinta adalah... Tindakan Sederhana yang Penuh Berisi.)
"Dalam hidup keseharian saya, cinta itu sangat sederhana. Saya melihat kekuatan cinta dalam hidup saya ketika saya berbaring di pangkuan suami yang dengan setia mengurut lembut punggung saya yang rasanya mau patah, padahal dia juga hari itu sibuk dan bekerja keras. Atau ketika saya pulang kerja, seharian jengkel karena boss marah-marah dan sempat membuat saya menangis... sampai di rumah kucing kecil saya lompat ke pangkuan saya dan dengan manja meminta perhatian dan kasih sayang dari saya.
Atau ketika ibu saya membeli bunga dan menaruhnya di vas yang cantik untuk menghiasi rumah baru saya... untuk menghibur saya yang dia tahu sedang having a bad day! Tindakan-tindakan sederhana yang kecil-kecil semacam itulah yang mengeja kata cinta, setidaknya bagi saya... setiap hari. (emmabliss57)
Love is... Taking Action! (Cinta adalah... Mengambil Tindakan!)
"Cinta itu sebuah 'aksi', sesuatu yang secara aktif kita lakukan!. Saya memulai hidup dengan terpaku pada pengertian bahwa cinta itu 'how I felt', 'apa yang saya rasakan'. Ternyata saya tak pernah bisa mencintai... kalau berdasarkan 'how I felt'.
Sekarang fokus saya lebih pada... Prinsip: Apakah saya menerima? Apakah saya rela melakukan banyak hal bagi orang? Apakah saya mengampuni?
Pengampunan ini besar sekali artinya dalam cinta. Bahkan saya berani katakan... bukan cinta kalau ia tidak pernah mengalami 'insiden' di mana salah satu atau kedua pihak harus saling memaafkan dan mengampuni! Adalah mudah untuk mencintai orang yang selalu setuju dan melakukan apa yang kita kehendaki atau orang yang tidak pernah membuat kita frustrasi.
Tetapi ketika saya mengampuni... (di sini letak kekuatannya) saya berhak mengatakan bahwa saya benar-benar telah berhasil bisa mencintai, sekalipun emosi yang saya rasakan tidak match dengan definisi 'bagaimana rasa cinta itu seharusnya..." (mikeincolorado)
Love is... Humility in Hard Time. (Cinta adalah... Sikap Menerima dengan Tetap Bersyukur Dalam Masa Sulit.)
Kata... pasrah, menerima total dengan sikap hati yang merendah dan tetap bersyukur... muncul di pikiran saya ketika ditanya tentang cinta.
Saya baru merasakan arti kata cinta yang sesungguhnya ketika saya jatuh sakit, dan bukan dirawat, tetapi dalam kesakitan itu, justru saya harus merawat dan menjagai Ibu saya, yang mulai pikun dan tersiksa dengan penyakit Alzheimers, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Dia berubah menjadi seperti anak bagi saya. Bertahun-tahun saya menjagai dan menyaksikan Ibu saya sedikit demi sedikit digerogoti (badan dan jiwanya) oleh penyakit ini. Tetapi dalam tahun-tahun sulit ini... hati saya selalu pasrah pada Tuhan. Selalu saya temukan hal-hal yang saya syukuri kepada Tuhan. Salah satunya... saya sangat bersyukur bahwa walaupun Ibu saya pikun dan tak ingat apa-apa... ia selalu ingat dan mengenali saya!
Sampai suatu hari ketika Ibu akhirnya dipanggil Tuhan... saya ada disana. Disampingnya menggenggam tangannya, mengantarnya berpindah alam. Bagi saya... itulah makna cinta yang sebenarnya. Itulah hal terbaik yang pernah saya berikan atas nama cinta bagi seorang manusia lain. (Gypsyrosallee).
Love is... Putting Others First. (Cinta adalah... Mendahulukan Orang Lain.)
"Bagi saya cinta adalah kemampuan dan kemauan untuk mengesampingkan kepentingan sendiri agar bisa melayani kebutuhan sesama... keluarga, sahabat, tetangga, bahkan musuh.
Membungkam suara-suara di kepala kita yang terus menerus menuntut... aku perlu ini perlu itu... mau ini mau itu, harus punya ini harus punya itu, harus kesini harus kesitu. Menghentikan tuntutan-tuntutan egoistik diri sendiri dan menyediakan waktu, uang, tenaga dan semangat untuk orang lain. Termasuk di dalamnya adalah menyediakan telinga dan kesabaran bagi orang lain. Dengan sabar mendengarkan cerita seorang kakek tua yang sedang bernostalgia menghitung kembali kenangan jaman keemasannya. Menyediakan waktu untuk berusaha memahami dan mengerti orang lain, bahkan mereka yang tidak kita sukai, sehingga kita tidak terlalu cepat menghakimi dan mengecam.
Semua manusia adalah harta berharga di mata Tuhan yang adalah Kasih... Karena itu... Semua orang layak kita berikan waktu, perhatian, kepedulian dan kasih sayang kita! (Leslielouise).
Love is... Compassion. (Cinta adalah... Peduli)
"Cinta adalah satu kata yang mempunya beragam bentuk dan jenis. Ada cinta persahabatan, ada cinta romantis. Menurut saya 'kepedulian' adalah juga merupakan bentuk cinta... bahkan mungkin jenis cinta ini yang dapat menyelamatkan kelanggengan species manusia dan planet kita.
Saya juga percaya sekali bahwa dosa mula-mula adalah dosa 'keakuan yang mementingkan diri sendiri'. Dosa ini juga yang sampai saat ini merupakan faktor terbesar yang menyebabkan berbagai masalah dan penderitaan di muka bumi. Banyak orang berpendapat bahwa cinta lawan katanya adalah benci. Tapi bagi saya, lawan kata cinta adalah selfishness 'mementingkan diri sendiri'.
Cinta adalah... berbagi, peduli, dan mengambil tindakan yang benar. Cinta adalah semua yang baik, dan tidak mengandung satupun yang tidak baik! (PluckyClucky).
Love is... Unconditional. Cinta adalah... Tanpa Syarat.
"Cinta berarti menerima seseorang sebagai mana ia diciptakan dengan tidak menetapkan syarat. Itu juga berarti mencintai dan menerima seseorang tanpa terpengaruh apapun yang ia lakukan atau ucapkan. Cinta berarti juga... meminta maaf meskipun bukan pada posisi yang bersalah, kalau kita mencintai orang yang kebetulan memiliki 'ego' yang besar. (Lovelight6).
Love Wears Different Faces in Different Places. Cinta mengenakan wajah berbeda di tempat yang berbeda.
"Menurut saya kitab 1 Korintus berbicara tentang wajah-wajah cinta yang beragam. Kalau kita pikirkan, cinta seorang ibu kepada anaknya, bukankah cinta itu berwajah sabar, lemah lembut, penuh pengorbanan dan sebagainya?. Demikian juga cinta kepada pasangan hidup... bukankah di dalamnya kita akan dipertemukan dengan wajah cinta yang berbeda-beda setiap hari, dalam setiap fase perkembangan cinta itu sendiri?
Intinya, menurut saya adalah... Kapanpun, di manapun dalam kondisi apapun... upaya kita untuk selalu hadir, untuk melakukan sebanyak mungkin yang menyenangkan dan tidak melakukan, kalau bisa meniadakan, hal-hal yang menyakiti orang yang kita cintai... itulah cinta!
Hitung hingga 100 kalau anda mulai panas menghadapi orang yang anda cintai, jaga kata-kata yang keluar dari mulut, tarik nafas dalam dan mulailah berusaha mengerti sudut pandangnya, kemudian cobalah membantunya untuk memahami sudut pandang anda. Memang ini tidak selalu menjamin adanya kesepakatan, tetapi minimal anda sudah memberikan diri anda sebanyak mungkin dan keluar dari comfort zone diri sendiri. Berarti anda telah memberi cinta kepada orang yang anda cintai yang mempunyai arti penting bagi hidup anda.
Cinta memang memiliki wajah beragam, dan kadang tidak mudah untuk memakaikan wajah cinta itu secara utuh, setiap waktu. Tetapi satu hal yang pasti... it's always there, selalu ada cinta! (Pugglesrule)
"Selamat menterjemahkan bahasa cinta dalam keseharian anda sendiri, Tuhan memberkati!"
Suasana kantor pagi itu intense…aroma persaingan dan harap-harap cemas terasa pekat. Sama pekatnya dengan secangkir kopi pahit di tangan Dode (setiap pagi dia minum kopi pahit tanpa gula tanpa cream!)
“Semoga aku…” frase itu yang ada di setiap kepala yang duduk (pura-pura) tenang di ruang meeting. Hari itu si Boss…DR. Jessica Stanzah (Ibu Sisca), Kepala Departement Personalia, Training dan Edukasi akan mengumumkan siapa yang dia pilih untuk mendampinginya ke Hawaii menghadiri Annual Conference for Educational Department of World Skin Care Industry.
Dag…dig…dug…! terdengar jelas detak jantung Karisma yang duduk manis di sebelah kananku memainkan ujung rambutnya! Selalu itu yang dia lakukan kalau dia nervous.(Eh, tunggu dulu... atau mungkin itu detak jantungku sendiri? Auk ah… susah dibedakan, habis 7 jantung di ruangan itu berdetak sama berisiknya!).
“Selamat pagi semua….sehat dan bahagia hari ini?” Ibu Sisca membuka meeting.
“Pagi Buuuu…. Baik-baik, Bu…!” koor 7 anak bebek yang sok calm, sok sportive, sok saling mendukung... sok siapapun yang terpilih ‘I am fine with it!’ (Ah…mana mungkin-lah just fine with it!... kalau kalah saingan pasti jelouse…pasti dongkol!)
“Dengan pertimbangan matang setelah diskusi dengan kantor pusat, saya sudah membuat pilihan siapa dari anda yang akan pergi dengan saya ke Hawaii. Trainer yang saya pilih ini meraih nilai tertinggi dalam test uji coba program Kandidat Kepala Cabang minggu lalu. Berdasarkan catatan department administrasi dan finance dia juga yang paling banyak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan program training yang menarik dengan biaya terendah tahun ini. Dia berhasil menyusun dan mengajukan proposal kurikulum training dan edukasi managerial yang sebenarnya tidak pernah diminta perusahaan…tetapi secara kreatif dia lakukan dan setelah kami kaji dan pelajari ternyata memang akan sangat bermanfaat bagi para manager berbagai department di perusahaan kita…”
Hatiku berdetak kencang… Kencang sekali! karena aku tahu pasti cuma aku yang pernah menyusun kurikulum dan proposal semacam itu! Walaupun hingga saat itu belum kudengar komentar dari Board of Directors. Wah, aku nih yang berangkat!
Tanpa kusadari pipiku memerah, terasa panas, duduk serba salah tingkah. Harus tersenyumkah…atau pura-pura nggak tahu aja….atau menunduk pura-pura sibuk…atau sok cool ajah toh semua tahu kalau aku yang paling brilliant di antara kami bertujuh. Di meeting-meeting juga ide-ideku yang paling cemerlang dan paling banyak didengar dan di pakai Ibu Sisca. Ah…mereka pasti sudah menyangka kalau aku yang terpilih.
“….bla…bla…bla…bla…..”
Cuma itu yang kudengar dari mulut Ibu Sisca selama sekitar 12 menit 6 detik berikutnya, sebelum akhirnya…Oh, akhirnya…. Beliau bilang….
“So…Miss Kiky, with all of your expertise, would you please honor me and accompany me to the conference?” katanya sangat ramah dan merendah sambil mengulurkan tangannya…yang tentu kusambut secepat kilat. (Jangan sampai dia berubah pikiran dan memilih Windu yang sombongnya bukan kepalang…yang by the way nafasnya selalu bau pete… kalau aku terlalu lambat menyambut uluran tangannya!)
Jantungku hampir melompat keluar dari rangka dadanya. Kepalaku berdenyut nyut….nyut…seperti pengalaman baru pertama kali naik lift elevator. Pipiku memerah…memanas…siap meledak…DUARRRR! ...bukan karena kaget, tapi karena bangga….ponggah…(.wah tenyata emosi bangga ini punya force yang lebih kuat dari emosi bentuk lainnya lho!)
Jalan sama Ibu Sisca??? Gila!!! Betapa cemburunya 5 orang laki-laki dan seorang perempuan lainnya di ruangan ini padaku! Hebat bener aku ya…JALAN SAMA IBU SISCA, bo…! Ke Hawaii lagi….nginap seminggu, sekamar di hotel resort mentereng di HAWAII, bo…. Sedangkan si Abraham yang cuma duduk bareng makan siang dengannya Kamis lalu aja….berkoar sekencang gagak pakai loud speaker! Semua tahu…semua dengar sampai ke detail cerita obrolan mereka…dari lantai 12 sampai basement parkiran!
Aku yang termuda diantara 7 trainer di seluruh perusahaan. Aku satu di antara cuma dua trainer perempuan. Aku yang meraih nilai tertinggi pada program persiapan dan pelatihan calon kepala cabang….berarti kansku untuk akan segera dipromosikan jadi kepala cabang sangat besar. (Aku dengar mereka akan segera buka cabang baru di Jakarta tahun ini!). Aku yang terkecil diantara mereka, dan terhitam karena aku satu-satunya dari kami bertujuh yang bukan chinesse…(Hah? Apa hubungannya? I know, pemikiran picik dan diskriminatif, ya?...ah biarain! Yang penting menambah panjangnya daftar alasanku untuk berbangga!)
Dua setengah minggu kemudian ........
“Good luck, Kikz…”
“Jangan lupa oleh-olehnya ya…”
“Selamat ya, Mbak Kiky… sekalian liburan ke Hawaii nih…”
“Parfum ya Kikz…. Jangan gantungan kunci!”
Aku tersenyum menanggapi celoteh teman-teman yang berebut memberi ucapan selamat jalan yang paling indah, berlomba memberi senyum yang paling manis… biar nanti dapat oleh-oleh yang paling bagus, tuh… maunya!
Aku dan Ibu Sisca berangkat bareng ke bandara dari kantor. Karna pesawat kami berangkat sore hari dan masih ada beberapa persiapan dokumen susulan untuk presentasi kami di sana di hari kedua. Aku dan Ibu Sisca berjalan berdampingan, keluar ruang meeting… lewat hall, lewat ruang makan dimana beberapa sales reps lagi makan sambil ngobrol, melintasi lobby… dan keluar pintu depan. Aku merasa di awang-awang. Aku merasa jadi orang paling penting di kantor (sesudah Ibu Sisca tentunya…). Aku berjalan seperti burung merak yang pamer keindahan bulu-bulu pada ekornya, (yakin sekali bahwa mata-mata yang mengantar kepergian kami memandang keindahan dan kemegahan bulu-bulu ekorku dengan sangat cemburu!). Kepalaku tegak ke atas, tatapan tegas lurus ke depan... sebentar-sebentar melirik sedikit ke Ibu Sisca yang berjalan di sebelahku.
Lho…kok dia santai banget ya…padahal tadinya aku mau mengcopygaya berjalan seorang boss yang hebat tuh… biar aku kelihatan makin mentereng.
Jumat tengah hari kami tiba di Honolulu, main island-nya Hawaii. Dari situ bersama beberapa peserta konferensi dari Jepang, Philipina, Korea, Turki dan New Zealand kami dijemput sebuah helikopter dan terbang ke Uahu, sebuah pulau kecil sebelah barat daya Honolulu, sekitar 15 menit terbang pakai helicopter. Kami mendarat di lapangan terbang pribadi milik International Uahu Spa and Resort Country Club.
Sederet wanita Hawaii dengan baju kebangsaan mereka berbaris menyambut kami dengan mengalungkan untaian bunga kepada kami. Dengan seksama mataku menyapu ke sekeliling. Waaaahhh….. Indahnya tempat ini, high class dan elitnya semua fasilitas ini, hebatnya semua pengalaman ini….tapi tak sedahsyat rasa bangga di dadaku yang mendesak keatas dan nyaris tak tertahan meloncat keluar dan berteriak lantang menunjukkan keakuaannya kepada dunia seperti Tarzan si manusia kera …. AAAAAHHHHHHH.....LIHAT AKU!!!!!...LIHAT YANG KUCAPAI….!!!!.
Bersama para boss berbagai bangsa itu kami melangkah perlahan…penuh karisma dan wibawa….ke arah lobby hotel. Istri-istri mereka bertabur permata, pakaian dan tas tangan mereka… Coco Chanel, Lui Vitton, Prada, dan entah apa lagi (ada beberapa merk yang saking elitnya nggak pernah kudengar!!). Cuma aku yang pakai jam tangan Guess, sepasang kalung dan anting mutiara hadiah ulang tahun dari Mami tahun lalu, dan jaket dan sepatu kulit buatan Cibaduyut! Diam-diam aku melirik kanan kiri…hampir semua dari mereka mempunyai cara berjalan yang khas…khas cara berjalan orang penting, orang kaya! Kepala tegak keatas, pandangan tegas lurus ke depan dan senyum sedikiiiit saja! Asal tak tampak cemberut….tak tampak tua!
Aku menoleh ke belakang,…
Lho??? Beberapa langkah di belakang kami Ibu Sisca sedang berjalan santai asyik masyuk bercanda ria dengan para gadis Hawaii pembawa untaian bunga. (Mereka ini juga membawakan tas-tas laptop computer kami.) Riang sekali, ramah sekali, akrab sekali… dan tampaknya dia benar-benar menikmati obrolan mereka (lengkap dengan tepukan pundak dan jabatan tangan).
Malamnya kami diundang Gala Diner malam perkenalan. Khusus untuk acara ini aku sudah menyiapkan gaun pesta termewahku yang kupesan dan dirancang khusus oleh Ghea Sukasah. Dengan gaun sutra putihku yang berkibar lembut…aku merasa bagai bidadari melayang di negri awan. Harganya…. Satu setengah bulan gajiku! Besar pasak dari pada tiang bener nih ceritanya! Gila ya? Cuma gara-gara pingin tampil pantas di kalangan elit kelas atas! Supaya nggak kebanting. Supaya orang lain dari lingkaran kelas lain (seperti para sainganku yang tertinggal di kantor ngiler karna gak kepilih, atau para pegawai hotel, atau para waiters) mengira aku salah satu dari orang-orang hebat itu.. What was I thinking? Who was I kidding?
Ibu Sisca… pakai setelan pantalon feminin warna coklat tua. Dari modelnya sih kayak yang banyak dijual di mall. Bermerk sih…tapi kelas mall, bukan gaun butik rancangan khusus. HAH??? Gak salah tuh dia?
“Wow…. Kamu tampak cantik sekali, Kiky!”
“Thanks Ibu, you too.” Jawabku singkat gak berani berkomentar panjang tentang penampilannya malam itu yang menurutku sebenarnya ‘kurang mewah’ alias terlalu sederhana untuk ukuran seorang boss.
Acara perkenalan. Semua peserta berdiri satu persatu memperkenalkan diri dan perusahaan yang diwakili. Semua orang yang berdiri sebelum aku menyebut nama, gelar pendidikan, nama perusahaan dan jabatan di perusahaan. Jadi seperti burung beo aku meniru cara perkenalan mereka ….
Tiba giliran Ibu Sisca (karna dia duduk hampir di ujung meja makan maka gilirannya tiba belakangan)….
“Hi everyone … I am Sisca from Indonesia and I am honored to be sitting here with you prestigious people.” Katanya singkat diakhiri dengan senyum lebar…lebar sekali! Ah…terlalu ramah ntar nggak dianggap berwibawa. Boss musti tampil berwibawa.
Lho…. Apa-apaan ini? Kenapa dia gak sebutkan gelar DOKTORnya yang dia dapatkan dengan cum laude dari sebuah universitas bergengsi bertaraf internasional di Belanda itu?. Kok dia gak sebut-sebut jabatannya sebagai salah satu dari cuma 3 eksekutif kakap di perusahaan kami (yang by the way…tanpa dia perusahaan kami sudah gulung tikar beberapa tahun lalu!). Wah…Ibu Sisca ini memang harus diajari kode etik, perilaku dan cara berlagak seperti boss!.
Kembali ke hotel. Capek…ngantuk.
“Kiky mau pakai kamar mandi duluan? Kayaknya kamu ngantuk berat tuh..”
“Boleh, Bu? Ibu nggak mau ke kamar mandi duluan?”
“Oh…nggak apa-apa, saya biasa tidur malam. Saya mau baca-baca dulu sedikit.”
“Terima kasih, Bu….”
Dan akupun nyelonong masuk kamar mandi. Karena capek dan ngantuk… kupikir urusan sopan santunnya mulai besok aja! Bersihin make-up, gosok gigi, mandi, cuci rambut dari bekas hairspray… aaahhh…segar, siap bobo deh. Dari dalam kamar mandi, sambil membuka pintu aku teriak…
“Udah selesai, Bu…Giliran Ibu nih…!”
Gak ada jawaban.
Aku keluar kamar mandi dan terpana….
Di sisi tempat tidurnya Ibu Sisca sedang berlutut dan berdoa… di bawah tangannya yang terlipat ada Holly Bible yang masih terbuka. Aku ketinggalan awal doanya, tapi sepenggal bagian terakhir yang sempat kudengar …
“ … bantu saya ya Tuhan untuk tidak kehilangan warna jati diri saya, dengan berkah sebesar apapun yang Kau berikan bagi saya. Bantu saya ya Tuhan supaya saya tidak terseret dan akhirnya tenggelam dalam arus yang tidak Kau sukai. Karena hidup saya ini ya Tuhan… semua dariMu dan hanya bagiMu. Amin.”
Kantukku hilang. Sepanjang malam aku terbaring dengan mata terbuka lebar. Kerut-kerut kecil terbentuk melintas dahiku. Tingkah lakuku minggu-minggu terakhir ini, kesombonganku, keangkuhanku, kebanggaanku yang berlebihan pada diri sendiri, kesibukanku menjiplak gaya boss, miringnya caraku memandang orang lain… semua bermunculan seperti gambar bisu jaman charly chaplin memenuhi kelopak mataku.
Memang secara langsung aku tak pernah merendahkan orang lain. Tapi rasa bangga yang berlebihan pada diri sendiri tanpa kusadari telah membangun tembok antara aku dan seputarku. Kalaupun aku beramah tamah dan berbuat baik… di otakku itu cuma ‘sedekah’ buat orang yang di bawahku! Betapa arogannya! Iiiihhhh…..malunya aku! Siapa aku ini dibanding Ibu Sisca. Di ketinggiannya yang natural dia tetap berpijak ke tanah. Humble…. (nggak heran kalau dia selalu tampak bahagia! Karena dia puas dengan ‘inti jati dirinya’ tanpa harus capek membangun kesan dan menjadi orang lain.)
Aku terpesona. Siapa sangka orang secantik, sehebat, sekaya, sepintar sesukses dan berkedudukan tinggi seperti Ibu Sisca ini bisa sangat humble dan akrab dengan jati dirinya dan akrab dengan Tuhan yang ia yakini sebagai pemilik hidupnya seutuhnya. Sedang aku? Aku yang sangat jauh di bawah Ibu Sisca… Aku memang percaya pada Tuhan, tapi benarkah aku meyakini (dan berlaku setiap hari yang membuktikan keyakinanku!) bahwa Dia pemilik seluruh hidupku? Rasanya tidak…! Aku masih menggenggam dan memiliki dan mengelola sendiri sebagian besar hidupku.
Kuamati wajahnya di sinar lampu temaram. Nafasnya terdengar halus dan lembut dalam tidur pulasnya. Raut mukanya terlihat tenang dan cantik…. cantiiiik sekali! Ini rupanya yang orang bilang 'beauty from within' kecantikan dan keindahan yang memancar dari dalam ke luar. Yang nggak pernah memerlukan Estee Lauder, Prada, gelar Doktor, gelar BOSS…atau solekan lahiriah yang semacamnya.
Aku malu!
Maluuu…sekali!
Pada diri sendiri,
pada nurani…
terutama aku sangat malu pada
Sang Pencipta jati diriku...
Sang Pemilik hidupku...
Jakarta, Awal Maret ‘98
Laporan perjalanan yang tertinggal dari Uahu, February ’98.
Buat Ibu Sisca, BOSS tercantik yang paling down to earth yang diutusNya untuk mengajariku tentang sopan santun, rendah hati dan being true to myself. Thank you, IBU… I will never, EVER forget you!”
Kisah di bawah ini saya dapat dari milis alumni Jerman,
atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, ...dan direnungkan seumur hidup!.
Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.
Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.
Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.
Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.
Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.
Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya." Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.
Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."
Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami,mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!
Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya.
Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Catatan: Kalau Tuhan berbisik dan menaruh 'greget' di hati kita untuk melakukan suatu tindakan, jangan menolak, mengabaikan atau menundanya. Lakukan segera, saat itu juga, karena Tuhan sudah merencanakan dan menyiapkan 'moment' itu untuk melakukan 'pekerjaan kasih' bagi seseorang dengan dampak besar dan meluas bagi semua orang!
Untuk Bro. Ricky: Terima kasih untuk kiriman 'pelajaran' yang sangat indah ini.Tuhan memberkati.
Untuk semua pembaca: Hari ini, mari kita semua mencoba melakukan 'pekerjaan kasih' semacam ini. Tuhan memberkati!
"Selamat tersenyum dengan HATIMU, dan memberkati banyak orang!"
Akrab, ramah, hangat... dan diberkati! Bersama kami, mari bertumbuh makin indah dan makin kuat dalam Tuhan!Menjadi pengikut Kristus yang berkarakter seperti Kristus!